Malu atau Jaim?

Assalamu’alaikum Warohmatullahi wabarokatuh

Alhamdulillaah, wasshalaatu wassalaamu ‘alaa rosuulillaah Muhammad bin ‘abdillaah wa ‘alaa aalih.

Sahabat yang insya Allah hari jumat ini diberkahi oleh Allah Subahaana huu wata’aala, jangan lupa pada tulisan saya sebelumnya dengan category hikmah jangan lupa lakukan amalan shahih di hari jumat ini dengan memperbanyak bacaan shalawat dan juga membaca surat al kahfi.

Kali ini saya akan mencoba membahas tentang hal Hikmah yang sering di perbincangkan atau lebih tepatnya di pergunakan orang untuk terlihat baik dengan sangkalannya yaitu dengan mengatakan “Saya Malu!” ketika di suruh untuk melakukan sesuatu dan ironinya ada sebagian orang yang berpendapat secara mudah bahwa malu bagian dari iman.

Malu atau Jaim?

Malu adalah sebuah sikap dari sebuah emosi manusia, namun malu juga bisa diartikan beragam seperti pengertian emosi, pernyataan atau kondisi yang dialami manusia karena perbuatan yang dia lakukan dan dia sangat berniat untuk menutupinya.

Sedangkan Jaim adalah singkatan dari kata jaga-image yang merupakan suatu perilaku untuk menyembunyikan sikap yang sebenarnya dengan mengharapkan orang lain menganggap subjek sebagai seseorang yang memiliki kepribadian yang tenang, dan berwibawa.

Dari kedua pengertian diatas sudah sangat jelas perbedaan antara malu dan jaim, namun jika anda ingin menggunakan kata malu dengan di sandarkan pada hadist yang mengatakan Malu adalah bagian dari iman, saya kira perlu dikaji ulang karena malu yang yang terdapat dalam hadist tersebut penggunaannya tidak seperti malu yang sering kita rasakan sebagai insan yang lemah.

Jika kita malu melakukan maksiat dan malu jika tidak paling depan dalam mengerjakan kebaikan atau sesuatu yang ma’ruf, barulah malu tersebut di kategorikan malu yang merupakan bagian dari iman kepada Allah subhaanahu wata’aala karena sudah sangat jelas malu yang kita lakukan itu di sandarkan pada taqwa kepada Allah Subhaanahuu wata’aala dan malunya harus karena Allah, itulah sikap malu yang sesuai dengan hadist rasul tersebut, yang shahih diriwayatkan oleh Imam Bokhori dari Salim bin Abdillah dan dari ayahnya tersebut, sahabat bisa lihat dalam kitab Al-iman.

Sekarang, malu atau jaimkah kita?

Kita tinggal mengukur diri atau muhasabah diri saja, apakah yang kita lakukan selama ini malu atau jaim? Jika yang di lakukan adalah malu karena Allah maka insya Allah jadi ibadah namun jika yang kita lakukan ternyata jaim, maka malah menjadi sebaliknya bukan mendapat kebaikan dari Allah malah mendapat laknat karena kesombongannya. Na’udzubillah.

Wassalamu’aliakum warohmatullahi wabarokaatuh.

=================================

Bagi anda yang menginginkan produk aksesoris rumah berbentuk Canopy Kain. Silahkan hubungi Canopy Kain dari Cv. Indah Karya Canopy.

Saya seorang Guru dan Karyawan Swasta pada sebuah lembaga pendidikan. Selain itu, saya juga menerima Jasa Pembuatan Website, SEO Google Bergaransi dan Penjualan Aplikasi berbasis Web.

3 Replies to “Malu atau Jaim?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Solve : *
7 × 19 =